Cara Pembuatan Obat Tradisional / OT (PRAKTEK FARMAKOGNOSI)
PENDAHULUAN :
1.
Pengertian Obat Tradisional
1.
Pengertian
obat tradisional
(farmakognosi EGC vol 2 hal 233)
a)
Obat
tradisional adalah bahan atau
ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan , bahan mineral, sediaan
sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara
turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan,dan dapat diterapkan sesuai
dengan norma yang berlaku dimasyarakat.
b) Penandaan
Jamu atau obat
tradisional Indonesia harus mencantumkan penandan berikut :
1)
Logo dan tulisan “JAMU”
2)
Logo berupa “ranting daun yang terletak dalam lingkaran”
3)
Logo ditempatkan bagian atas sebelah kiri
wadah/pembungkus/brosur.
4)
Logo (ranting daun dalam lingkaran) dicetak dengan warna
hijau diatas dasar warna putih atau warna lain yang mencolok kontras dengan
warna logo.
5)
Tulisan “JAMU” harus
jelas dan mudah dibaca , dicetak dengan warna hitamd iatas dasar warna putih
atau warna lain yang mencolok kontras dengan tulisan “JAMU”
c)
Kriteria yang harus dipenuhi
Jamu atau obat
tradisional Indonesia harus memenuhi criteria sebagai berikut :
1.
Aman dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapka.
2.
Klaim penggunaan dibuktikan berdasarkan data empiris.
3.
Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
Jenis klaim penggunaan diawali dengan
kata kata “secara tradisional digunakan untuk….” Atau sesuai dengan yang
disetujui pada saat pendaftaran
d)
Sediaan-sediaan Obat Tradisional Indonesia
1.
Ekstrak
Dalam
Farmakope Indonesia Edisi IV,disebutkan bahwa yang dimaksud dalam ekstrak adalah sediaan pekat yang
diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia
hewani menggunakan pelarut yang sesuai , kemudian semua atau hampir semua
pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian
sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.
Pembuatan
Sebagian ekstrak dibuat
dengan mengekstraksi bahan baku obat secarper kolasi. Seluruh perkolat dipekatkan secara distilasi
dengan pengurangan tekanan agar bahan sesedikit mungkin terkena panas.
Parameter dan
metode uji ekstrak
meliputi parameter
nonspesifik, serta uji kandungan kimia ekstrak.
a.
Parameter nonspesifik
Parameter nonspesifik
meliputi :
·
Susut pengeringan dan
bobot jenis
·
Kadar air
·
Sisa pelarut
·
Residu pestisida
cemaran logam berat
·
Cemaran mikroba, yaitu
cemaran mikroba dan cemaran kapang,khamir,dan aflotoksin
b. Parameter
spesifik
Parameter
spesifikberlakuuntukekstraktertentu ,yangmeliputi :
·
Identitas
(padatatausetengahpadat)
·
Organoleptic
·
Senyawaterlarutdalampelarut
c. Uji
kandungan kimia ekstrak
Uji kandungan kimia
ekstrak meliputi :
·
Polakromatogram, yaitu
dengan :
-
Kromatografi lapis
tipis (KLT) atau thin layer chromatography (TLC)
-
Kromatografi gas (KG)
atau gas chromatography (GG)
-
Koromatografi cair
kinerja tinggi (KCKT) atau high performance liquid chromatography (HPLC)
·
Kadar total golongan
kandungan kimia
Golongan kandungan
kimia yang diuji kadar totalnya meliputi :
o Golongan
minyak atsiri
o Golongan
flavonoida
o Golongan
tanin
o Golongan
alkaloida
o Golongan
antrakuinon
o Golongan
saponin
o Golongan
steoroid
·
Kadar kandungan kimia
tertentu
Kandungan kimia tertentu diuji menggunakan
densitometry, krimatografi gas, dan KCK.
2.
Tinctura
Tinctura (tingtur)
adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia
nabati atau hewani dengan cara melarutkan senyawa kimi adalah pelarut yang
tertera dalam masing-masing monografi. Tinctura dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat atau 10% untuk zat berkhasiat keras.
Pembuatan
Tinctura dapat dibuat
dengan salah satu cara berikut:
a.
Maserasi
Masukan 10 bagian
simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok kedalam
sebuah bejana, tuangi dengan 75 bagian cairan penyari, tutup, biarkanselama 5
hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, serkai, peras, cuci ampas
dengan cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan
kedalam bejana tertutup, biarkan ditempat sejuk dan terlindung dari cahaya
selama 2 hari, lalu tuangkan atau saring.
b.
Perkolasi
Basahi 10 bagian
simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2,5-5
bagian cairan penyari, masukan kedalam
bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. Pindahkan sedikit demi sedikit
kedalam percolator sambil tiap kalindi tekan hati-hati, tuangi
dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan diatas
simplisia masih terdapat selapis cairan penyari, tutup percolator, biarkan
selama 24 jam. Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1ml per menit ,tambahkan
cairan penyari secukupnya berulang-ulang sehingga selalu terdapat selapis
cairan penyari diatas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Peras
massa, campurkan cairan perasan kedalam perkolat, tambahkan cairan penyari secukupnya
hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam bejana, tutup,biarkan selama 2
hari ditempatkan sejuk dan terlindung dari cahaya. Enap tuangkan atau saring.
Persyaratan
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Repulik Indonesia
Nomor 661/MENKES/SK/VII/1994 tentang persyaratan ObatTradisional, cairan obat
dan cairan obat luar harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a.
Cairanobatdalam
·
Angka lempeng total :
tidak lebih dari

·
Angka kapang dan khamir : tidak lebih dari

·
Mikroba pathogen : negative
·
Aflatoksin : tidak lebih
dari 30 bpj
b.
Cairanobatluar
·
Angkalempeng total : tidak lebih dari
·
Mikroba pathogen : negative
3.
Infusa
Infusa
(infus) adalah sediaan cair yang dibuat dengan
menyari simplisia nabati dengan air pada suhu
90
C selam 15 menit.

Pembuatan
Infusa
dibuat dengan menambahkan air secukupnya
pada simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci . campuran kemudian
dipanaskan diatas penangas air selam 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90
C , sambil sesekali diaduk. Campuran kemudian
diserkai selagi panas menggunakan kain flanel dan ditambahkan air panas
secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infusa yang dikehandaki.Tanpa
keterangan lain, infusa yang mengggunakan 10% simlisia.

Persyaratan
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Repulik Indonesia
Nomor 661/MENKES/SK/VII/1994 tentang persyaratan Obat Tradisional, cairan obat
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
·
Angka lempeng total : tidak lebih dari

·
Angka kapang dan khamir : tidak lebih dari

·
Aflatoksin : tidak lebih
dari 30 bpj
4.
Aqua Aromatika
Menurut Farmakope Indonesia Edisi II , aqua
aromatika atau sering disebut dengan air aromatic adalah larutan jenuh minyak
dalam air. Air aromatic merupakan cairan jernih atau agak keruh yang mempunyai
bau dan rasa yang tidak menyimpang dari bau dan rasa minyak atrisiasal. Air
aromatic disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, dan
ditempat sejuk.(Anief,Moh.2000)
Pembuatan
Air aromatic dibuat
dengan melarutakan sejumlah minyak atsiri dalam air sesuai yang tertera dalam
60 ml etanol (95%) , lalu ditambahkan air sedikit demi sedikit dikocok
kuat-kuat hingga 100 ml. selanjutnya , ditambahkan 500 gram talcum sambil
dikocok-kocok sesekali, dibiarkan selama beberapa jam , dan disaring . satu
bagian volume filtrate kemudian diencerkan dengan 39 bagian volume air.
e)
Pengertian Tanaman obat adalah Jenis-jenis tanaman
yang memiliki fungsi dan berkhasiat sebagai obat dan dipergunakan untuk
penyembuhan ataupun maupun mencegah berbagai penyakit, berkhasiat obat sendiri
mempunyai arti mengandung zat aktif yang bisa mengobati penyakit tertentu atau
jika tidak memiliki kandungan zat aktif tertentu tapi memiliki kandungan efek
resultan / sinergi dari berbagai zat yang mempunyai efek mengobati. (Sumber : http://pengertiantanamanobat.blogspot.co.id/2012/10/pengertian-tanaman-obat-jenis-dan.html )
2.
Macam macam Obat Tradisional
a.
Temulawak
Temulawak merupakan salah
satu tanaman yang termasuk keluarga jahe, banyak dimanfaatkan untuk membuat
obat herbal. Temulawak mengandung senyawa aktif yang sangat bagus untuk
kesehatan. Temulawak juga mengandung antioksidan yang dapat menjaga dan
memelihara kesehatan tubuh.
b.
Kunyit
Tanaman herbal lain yang
dapat digunakan untuk membuat ramuan tradisional yaitu kunyit. Kunyit banyak
digunakan untuk membuat jamu, kunyit mengandung banyak khasiat. Beberapa
khasiat dari kunyit yaitu sebagai antioksidan, anti inflamasi, anti mikroba,
anti kanker, anti tumor dan masih banyak lagi manfaat lainnya.
c.
Keji beling
Bagi Anda yang sudah terbiasa membuat obat herbal, tentu Anda
sudah tidak asing dengan tanaman herbal yang satu ini. Tanaman yang satu ini
mengandung banyak mineral, diantaranya yaitu kalsium, kalium, Natrium dan unsur
mineral lainnya. Tidak hanya mengandung mineral, tanaman ini juga mengandung
senyawa aktif lainnya. Tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan untuk mengobati
beberapa penyakit, bahkan penyakit kronis. Antara lain yaitu penyakit batu
ginjal, disentri, lever, ambeien dan masih lain sebagainya.
d.
Sambiloto
Sambiloto termasuk sebagai tanaman herbal yang dapat dijumpai
secara mudah di Indonesia. Daun sambiloto banyak diolah menjadi ramuan
tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Salah satu penyakit yang
dapat diobati menggunakan daun sambiloto yaitu penyakit kanker. Kandungan yang
dimiliki daun sambiloto dapat menekan adanya pertumbuhan sel kanker.
e.
Tempuyung
Tanaman lain yang merupakan bahan dasar untuk pembuatan obat
herbal yaitu tempuyung. Tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit
ginjal atau masalah ginjal lainnya.
f. Mahkota
dewa
Mahkota dewa juga banyak dimanfaatkan untuk membuat obat
herbal. Kandungan yang ada di dalamnya antara lain yaitu lignan, alkaloid,
tanin, saponin dan flavonoid. Mahkota dewa memiliki khasiat yang cukup banyak,
antara lain yaitu dapat menghambat sel kanker dan mengobati diabetes. Selain
itu mahkota dewa juga dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit asam urat dan
menurunkan kolesterol tinggi.
3.
Sumber Obat Tradisional
A. Obat tradisional buatan sendiri
Obat tradisional jenis ini merupakan akar
dari pengembangan obat tradisional di Indonesia saat ini. Pada zaman dahulu
nenek moyang kita mempunyai kemampuan untuk menyediakan ramuan obat tradisional
yang digunakan untuk keperluan keluarga. Cara ini kemudian terus dikembangkan
oleh pemerintah dalam bentuk program TOGA (tanam obat keluarga). Dengan adanya
program TOGA diharapkan masyarakat mampu menyediakan baik bahan maupun sediaan
jamu yang dapat dimanfaatkan dalam upaya menunjang kesehatan keluarga.
B. Obat tradisional berasal dari pembuat jamu
B. Obat tradisional berasal dari pembuat jamu
Membuat jamu merupakan salah satu profesi
yang jumlahnya masih cukup banyak. salah satu adalah pembuat sekaligus panjual
jamu gendong. Pembuat jamu gendong merupakan penyedia obat tradisional
berbentuk cairan, diantara produknya adalah kunir asam, sinom, mengkudu,
pahitan, beras kencur, cabe puyung dan gepyokan.
C. Obat tradisional buatan industri
C. Obat tradisional buatan industri
Berdasarkan peraturan Departemen Kesehatan
RI, industri obat tradisional dapat dikelompokan menjadi industri kecil dan
industri besar berdasarkan modal yang harus mereka miliki. Dengan
semakinmaraknya obat tradisional tampaknya industri farmasi mulai tertarik
untuk memproduksi obat tradisional. Akan tetapi, pada umumnya yang berbentuk
sediaan modern berupa ekstrak bahan alam atau fitolarmaka. Sedangkan industri
jamu lebih condong untuk memproduksi bentuk jamu yang sederhana meskipun
akhir-akhir ini cukup banyak industri besar yang memproduksi jamu dalam bentuk
sediaanmodern (tablet, kapsul, sirup, dan lain-lain) dan bahkan fitofarmaka.
4.
Faktor faktor yang mempengaruhi kualitas
Obat Tradisional
Pada proses pembuatan obat tradisional,
simplisia atau pun ekstrak yang digunakan sebagai bahan bakunya harus telah
memenuhi persyaratan
mutunya, baik parameter standar umum (kadar air,kadar abu, susut pengeringan
dan bobot jenis) maupun parameter standar spesifik (organolepik, senyawa
pelarut dalam pelarut tertentu, uji kandungan kimia ekstrak dan pentapan
kadar). Standarisasi dilakukan agar dapat diperoleh bahan baku yang seragam
yang akhirnya dapat menjamin efek farmakologi tanaman tersebut. Salah satu
parameter penting dalam standarisasi adalah profil plant metabolomic(metabolic
profiling).
Kandungan metabolit sekunder ini mempengaruhi
efek farmakologi dari suatu tanaman, dimana kandungan kimia ini sendiri
dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain tempat tumbuh, iklim, curah hujan,
panen. Banyaknya faktor yang mempengaruhi kandungan kimia mengakibatkan masing
masing tanaman memiliki profil plant
metabolomic yang berbeda
5.
Cara pembuatan Obat Tradisional secara
umum
WAKTU
PENGUMPULAN
Guna mendapatkan bahan yang terbaik dari
tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-saat pengumpulan atau pemetikan bahan
berkhasiat.
Berikut ini pedoman waktu pengumpulan bahan obat secara umum.
·
Daun dikumpulkan
sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak.
·
Bunga dikumpulkan sebelum
atau segera setelah mekar.
·
Buah dipetik dalam
keadaan masak.
·
Biji dikumpulkan dari
buah yan g masak sempurna.
·
Akar, rimpang
(rhizome), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus) dikumpulkan sewaktu proses
tumbuhan berhenti.
PENCUCIAN DAN PENGERINGAN
Bahan obat yang sudah dikumpulkan segera dicuci
bersih, sebaiknya dengan air yang mengalir. Setelah bersih, dapat segera
dimanfaatkan bila diperlukan pemakaian yang bahan segar. Namun, bisa pula
dikeringkan untuk disimpan dan digunakan bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan
mengcegah pembusukan oleh cendawan atau bakteri. Dengan demikian, bahan dapat
disimpan lebih lama dalam stoples atau wadah yang tertutup rapat. Bahan kering
juga mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.
Berikut ini cara
mengeringkan bahan obat :
·
Bahan berukuran besar dan banyak mengandung air dapat
dipotong-potong seperlunya terlebih dahulu.
·
Pengeringan bisa
langsung dibawah sinar matahari, atau memakai pelindung seperti kawat halus
jika menghendaki pengeringan yang tidak terlalu cepat.